min2palembang.sch.id Berita Dirjen Pendis Kemenag RI Tekankan Aksi Nyata Ekoteologi dan Pemberantasan Bullying, Sumsel Didorong Jadi Pelopor

Dirjen Pendis Kemenag RI Tekankan Aksi Nyata Ekoteologi dan Pemberantasan Bullying, Sumsel Didorong Jadi Pelopor

Palembang Kemenag Sumsel

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., menegaskan pentingnya pelaksanaan program prioritas Kementerian Agama melalui aksi nyata ekoteologi dan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), khususnya dalam upaya mencegah dan memberantas perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan madrasah. Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Evaluasi dan Pembinaan di Lingkungan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan, Sabtu (17/10/2026), pukul 10.00 WIB, di Aula MAN 3 Kota Palembang.

Dalam arahannya, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., menekankan bahwa program Kementerian Agama tidak boleh berhenti pada tataran konsep, slogan, maupun kegiatan seremonial. Setiap program harus diterjemahkan menjadi gerakan konkret yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam membentuk karakter murid, menjaga kelestarian lingkungan, dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman serta nyaman.

Dua agenda utama yang menjadi perhatian dalam rapat tersebut adalah gerakan nyata ekoteologi dan aksi nyata Kurikulum Berbasis Cinta dalam memberantas perundungan. Kedua agenda ini menuntut keterlibatan aktif seluruh warga madrasah.

Dalam aspek ekoteologi, Dirjen Pendis menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar pemahaman teoritis.

Madrasah didorong menjadi pelopor pembentukan budaya peduli lingkungan melalui pembiasaan menjaga kebersihan, merawat tanaman, mengelola sampah dengan baik, mengurangi pencemaran, serta memberikan edukasi mengenai dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan manusia.

Ekoteologi merupakan pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga alam. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan perlu menjadi bagian dari pembentukan karakter murid agar mereka memahami bahwa menjaga kelestarian bumi merupakan tanggung jawab bersama.

Di tengah persoalan asap akibat karhutla, perhatian terhadap kesehatan warga madrasah juga menjadi bagian penting. Dirjen Pendis mendorong murid untuk membiasakan hidup sehat dan menggunakan masker ketika kondisi udara tidak sehat. Edukasi tersebut perlu disertai dengan pemantauan kualitas udara dan penerapan arahan kesehatan sesuai kondisi setempat.

Selain ekoteologi, Prof. Suyitno menekankan pentingnya aksi nyata Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), terutama dalam membangun lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan. Ia menyoroti bahwa perundungan merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sebagai candaan atau kebiasaan biasa dalam pergaulan murid.

Perundungan dapat menimbulkan dampak buruk terhadap perkembangan psikologis, rasa percaya diri, hubungan sosial, dan kenyamanan anak dalam belajar. Bahkan, perilaku tersebut dapat terjadi sejak usia dini sehingga pencegahan harus dimulai sedini mungkin melalui pendidikan karakter, keteladanan, pengawasan, dan pembiasaan sikap saling menghormati.

KBC harus diterapkan melalui tindakan yang konkret. Nilai cinta perlu terlihat dalam cara guru mendidik, cara murid berinteraksi, serta cara madrasah menyelesaikan konflik. Setiap warga madrasah harus dibiasakan untuk menghargai perbedaan, menjaga ucapan, tidak melakukan kekerasan, tidak mengucilkan teman, dan berani membantu apabila melihat tindakan perundungan.

Dirjen Pendis juga mendorong Sumatera Selatan menjadi pelopor dalam gerakan pemberantasan perundungan di lingkungan pendidikan. Dorongan ini menjadi tantangan bagi seluruh madrasah untuk memperkuat pencegahan, menyediakan ruang pelaporan yang aman, memberikan pendampingan kepada murid yang terdampak, serta menindaklanjuti setiap laporan secara tepat dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

Dengan demikian, keberhasilan program KBC tidak cukup diukur dari pelaksanaan sosialisasi atau penyampaian materi di kelas. Keberhasilannya harus terlihat dari perubahan perilaku, tumbuhnya empati, meningkatnya kepedulian antarmurid, serta terciptanya suasana belajar yang aman dan bebas dari kekerasan.

Penekanan terhadap ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta tersebut berkaitan erat dengan Asta Protas Kementerian Agama, khususnya penguatan ekoteologi dan pengembangan pendidikan yang berlandaskan nilai cinta serta kepedulian terhadap sesama.

Melalui program ini, madrasah diharapkan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu membentuk generasi yang berakhlak mulia, memiliki kepedulian ekologis, menghargai martabat manusia, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.

Implementasi Asta Protas tersebut dapat dilakukan melalui program kerja madrasah yang terencana, pembiasaan perilaku ramah lingkungan, edukasi kesehatan, penguatan karakter, serta kebijakan pencegahan perundungan yang melibatkan seluruh warga madrasah dan orang tua.

Kepala MIN 2 Kota Palembang, Ibu Siti Ajnaimah, S.Pd.I., M.Ag., yang turut menghadiri rapat koordinasi ini menjadi bagian dari jajaran pimpinan madrasah yang mengikuti penguatan arah kebijakan dan program prioritas Kementerian Agama. Kehadiran ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam menerjemahkan arahan Dirjen Pendis ke dalam praktik pendidikan yang relevan dengan kebutuhan murid.

Bagi madrasah, pesan utama dari kegiatan ini adalah bahwa program prioritas harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan ekoteologi perlu diwujudkan melalui budaya menjaga lingkungan, sedangkan KBC harus tampak dalam hubungan yang penuh kasih sayang, penghormatan, dan perlindungan terhadap setiap murid.

Rapat koordinasi evaluasi dan pembinaan ini diharapkan menjadi penggerak bagi madrasah di Sumatera Selatan untuk menyusun langkah tindak lanjut yang terukur dan berkelanjutan. Evaluasi terhadap kondisi lingkungan, perilaku warga madrasah, serta mekanisme pencegahan kekerasan perlu dilakukan secara berkala agar pelaksanaan program benar-benar memberikan dampak.

Dirjen Pendis berpesan bahwa madrasah memiliki tanggung jawab besar dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat, peduli lingkungan, dan berkarakter. Sumatera Selatan diharapkan mampu mengambil peran terdepan dalam mewujudkan gerakan ekoteologi dan pendidikan berbasis cinta, sekaligus memastikan bahwa perundungan tidak mendapat tempat di lingkungan pendidikan.

Keberhasilan program Kementerian Agama harus tercermin dalam perubahan nyata,  lingkungan yang lebih terjaga, perilaku hidup sehat yang semakin membudaya, serta hubungan antarmurid yang semakin aman, harmonis, dan saling menghargai. Inilah arah gerakan yang perlu diperkuat bersama oleh seluruh madrasah demi menghadirkan pendidikan yang berdampak bagi murid, masyarakat, dan masa depan bangsa. (an)

0 Likes

Author: andre