Palembang Kemenag Sumsel
Dalam upaya menjaga kebhinekaan budaya dan melestarikan kearifan lokal, Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Palembang (KKP) menggelar Workshop Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Palembang (Bebaso). Kegiatan bernilai budaya tinggi ini diselenggarakan pada 7 hingga 8 September 2026 bertempat di Rumah Dinas Walikota Palembang. Senin, 07/09/2026.
Kegiatan workshop yang dibuka secara resmi oleh Kepala staf bidang kesra kantor walikota Palembang Drs. M. Sadruddin Hadjar, S.Sos ini diikuti oleh ratusan tenaga pendidik dan kepala madrasah se-Kota Palembang, mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Ketua Umum PP Kerukunan Keluarga Palembang (KKP), Ir. Kgs. H. Abdul Rozak, M.Sc., menyampaikan bahwa workshop ini merupakan salah satu program unggulan KKP untuk melestarikan, mengembangkan, dan menginternalisasikan Bahasa Palembang Halus (Bebaso). Bahasa daerah dinilai perlu dikenalkan sejak dini kepada generasi muda melalui jalur pendidikan formal madrasah.
Kegiatan ini menghadirkan jajaran narasumber berpengalaman dan tim penyusun buku Muatan Lokal Bahasa Palembang, di antaranya Prof. Dr. Hj. Zuhdiyah, M.Ag., Dra. Hj. Choiriyah, M.Hum., Kms. H. Andi Syarifuddin, M.Hum., Drs. Kgs. Edi Arfa’i, M.Si., Mgs. Yusuf Baihaqi, M.Si., dan Dra. Nurma Herawati, M.Pd.
Kehadiran muatan lokal Bahasa Palembang mendapat sambutan hangat dan dukungan penuh dari keluarga besar MIN 2 Kota Palembang yang turut hadir menjadi peserta dalam kegiatan workshop tersebut.
Kepala MIN 2 Kota Palembang, Ibu Siti Ajnaimah, S.Pd.I., M.Ag., mengapresiasi tinggi inisiatif KKP dan Kantor Kementerian Agama Kota Palembang dalam menyelenggarakan pelatihan ini.
“Kegiatan workshop ini sangat penting dan strategis bagi penguatan kurikulum di lingkungan madrasah. Bahasa Palembang Halus (Bebaso) bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas serta cerminan etika luhur masyarakat Palembang. Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru mendapatkan pembekalan yang komprehensif sehingga Bahasa Palembang dapat diajarkan secara menyenangkan, efektif, dan penuh makna kepada peserta didik,” ujar Siti Ajnaimah.
Dukungan senada disampaikan oleh guru MIN 2 Kota Palembang, Ibu Nurul Fithriyah, S.Ag., S.Pd.I., yang menekankan pentingnya peran guru dalam mengemas materi muatan lokal secara aplikatif di kelas.
“Sebagai tenaga pendidik di MIN 2 Kota Palembang, kami merasa sangat terbantu dengan adanya workshop ini. Panduan dari para narasumber memberikan gambaran yang jelas mengenai penyampaian materi Bebaso. Ini memotivasi kami untuk menyusun strategi pembelajaran muatan lokal yang interaktif dan kreatif, agar siswa tidak hanya memahami bahasa daerahnya secara teori, tetapi juga bangga menerapkannya sehari-hari,” ungkap Nurul Fithriyah.
Sementara itu, Ibu Risnaini, guru MIN 2 Kota Palembang, menyoroti pentingnya menjaga kelestarian kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
“Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, anak-anak kita sering kali asing dengan bahasa daerahnya sendiri, khususnya Bebaso. Melalui workshop muatan lokal ini, kami di MIN 2 Kota Palembang berkomitmen untuk menanamkan rasa cinta budaya daerah dan nilai-nilai kesantunan sejak dini kepada seluruh siswa,” tutur Ibu Risnaini.
Melalui pelaksanaan workshop selama dua hari ini, diharapkan MIN 2 Kota Palembang bersama madrasah lainnya di Kota Palembang dapat mengimplementasikan pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Palembang (Bebaso) secara optimal, sehingga kelestarian bahasa dan budaya Palembang tetap terjaga sepanjang masa. (an)
