Palembang Kemenag Sumsel
MIN 2 Kota Palembang kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui kegiatan pengelolaan dan penjualan limbah daur ulang yang melibatkan seluruh siswa. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan MIN 2 Kota Palembang sebagai bagian dari program pembiasaan karakter cinta lingkungan. Jumat, 13/02/2026
Pada hari ini, para siswa diperbolehkan menjual barang bekas yang dapat didaur ulang seperti botol plastik minuman, kardus, serta kertas bekas kepada tim Adiwiyata madrasah. Sejak pagi, siswa tampak antusias membawa hasil pilahan sampah dari rumah masing-masing.
Barang-barang tersebut kemudian ditimbang oleh panitia sebelum dicatat dalam administrasi tim Adiwiyata. Harga jual yang telah ditetapkan adalah Rp2.000 per kilogram untuk kardus dan Rp2.000 per kilogram untuk botol plastik.
Kegiatan ini bukan sekadar transaksi jual beli barang bekas, tetapi merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik nyata. Siswa dilatih untuk memilah sampah sejak dari rumah, memahami jenis-jenis limbah, serta mengetahui nilai ekonominya.
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai pendidikan berkelanjutan, di mana peserta didik tidak hanya menerima teori di kelas, tetapi juga mengalami langsung proses pembelajaran melalui tindakan konkret.
Secara ilmiah, limbah kertas dan kardus yang didaur ulang memberikan dampak besar terhadap kelestarian lingkungan. Proses daur ulang satu ton kertas diketahui dapat menyelamatkan sekitar 17 pohon serta menghemat ribuan liter air yang biasanya digunakan dalam produksi kertas baru. Fakta ini menjadi materi edukatif yang juga disampaikan kepada siswa agar mereka memahami bahwa tindakan kecil memiliki dampak besar.
Sementara itu, limbah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami. Oleh karena itu, kebiasaan mendaur ulang plastik sejak usia madrasah dasar sangat penting untuk mengurangi pencemaran jangka panjang.
Program ini juga memperkuat kesadaran bahwa madrasah yang menerapkan budaya lingkungan secara konsisten mampu meningkatkan kepedulian ekologis siswa hingga terbawa ke lingkungan keluarga. Banyak orang tua yang mulai ikut memilah sampah di rumah karena terinspirasi oleh kebiasaan anak-anak mereka.
Ketua tim pelaksana kegiatan ini, Bapak Aris, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membangun karakter tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus menanamkan nilai kewirausahaan sederhana.
“Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan siswa memahami bahwa sampah memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Bapak Aris.
Beliau menambahkan bahwa hasil pengumpulan limbah ini nantinya akan diolah kembali oleh tim Adiwiyata menjadi produk yang bermanfaat, seperti pot tanaman, hiasan kelas, maupun media pembelajaran kreatif berbasis barang daur ulang.
Kegiatan ini selaras dengan Program Adiwiyata yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang bertujuan membentuk madrasah peduli dan berbudaya lingkungan. Program tersebut menekankan pentingnya kebijakan ramah lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, serta partisipasi aktif seluruh warga madrasah.
Selain itu, kegiatan ini juga terintegrasi dengan program ekoteologi yang mengajarkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari nilai-nilai keagamaan. Dalam ajaran Islam, manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam.
Kepala MIN 2 Kota Palembang, Ibu Siti Ajnaimah, S.Pd.I., M.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata integrasi antara pendidikan karakter, nilai agama, dan kepedulian lingkungan.
“Kami ingin siswa memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari ibadah. Melalui program ini, madrasah hadir untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia sekaligus peduli terhadap bumi,” ungkap beliau.
Beliau juga menegaskan bahwa dampak kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari rumah secara perlahan mengubah pola pikir keluarga tentang pentingnya pengurangan limbah.
Dampak ekonomi sederhana juga mulai terlihat. Siswa belajar bahwa barang yang dianggap tidak bernilai ternyata dapat menghasilkan manfaat finansial, sekaligus membantu program lingkungan madrasah.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini membentuk budaya gotong royong di lingkungan madrasah. Siswa, guru, dan tim Adiwiyata bekerja sama memastikan proses penimbangan dan pencatatan berjalan tertib.
Program ini juga menjadi sarana pembelajaran lintas mata pelajaran. Dalam pelajaran IPA, siswa memahami proses penguraian sampah. Dalam matematika, mereka belajar menghitung berat dan nilai jual. Dalam pendidikan agama, mereka memahami tanggung jawab menjaga alam.
Secara sosial, kegiatan ini mempererat hubungan antara madrasah dan masyarakat. Orang tua mendukung dengan membantu anak-anak mengumpulkan dan memilah sampah dari rumah.
Dengan harga Rp2.000 per kilogram untuk kardus dan plastik, siswa belajar konsep sederhana tentang ekonomi sirkular, yaitu sistem yang memanfaatkan kembali sumber daya agar tidak terbuang sia-sia.
Langkah kecil yang dilakukan hari ini menjadi bagian dari gerakan besar menjaga bumi dari kerusakan lingkungan.
Semangat peduli lingkungan yang ditanamkan di MIN 2 Kota Palembang diharapkan menjadi karakter yang melekat hingga dewasa.
Melalui program ini, madrasah tidak hanya mencetak generasi berprestasi, tetapi juga generasi yang sadar akan tanggung jawab ekologisnya.
Kegiatan pengelolaan dan penjualan limbah daur ulang ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan integrasi program Adiwiyata dan ekoteologi, MIN 2 Kota Palembang terus melangkah menjadi madrasah yang unggul dalam prestasi sekaligus teladan dalam kepedulian lingkungan. (an)
