Palembang Kemenag Sumsel
MIN 2 Kota Palembang kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun karakter peduli lingkungan melalui kegiatan gotong royong bersama. Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa, guru, dan pegawai madrasah dalam aksi nyata menjaga dan merawat lingkungan madrasah. Sejak pagi hari, suasana halaman madrasah tampak penuh semangat dengan berbagai aktivitas penghijauan dan kebersihan. Rabu, 11/02/2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program ekoteologi dan Adiwiyata yang selama ini menjadi fokus pembinaan karakter di MIN 2 Kota Palembang. Program Adiwiyata sendiri merupakan program nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertujuan membentuk madrasah peduli dan berbudaya lingkungan. Sementara ekoteologi menekankan nilai-nilai keagamaan dalam menjaga kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang menyapu halaman, membersihkan selokan, mengumpulkan sampah organik dan anorganik, hingga merapikan taman madrasah. Beberapa siswa lainnya menanam bibit tanaman hias dan tanaman produktif di area kebun madrasah.
Menariknya, sebagian siswa juga diberikan edukasi langsung tentang cara membuat kompos dari dedaunan dan ranting kering yang ada di lingkungan madrasah. Mereka mengumpulkan daun-daun gugur, memotong ranting kecil, lalu menempatkannya di lubang kompos yang telah disiapkan. Kegiatan ini bukan sekadar membersihkan, tetapi juga mengajarkan prinsip daur ulang alami.
Secara ilmiah, kompos merupakan hasil penguraian bahan organik oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Proses ini menghasilkan pupuk alami yang kaya unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Fakta pentingnya, penggunaan kompos dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Langkah pertama dalam membuat kompos adalah memisahkan sampah organik seperti daun, sisa sayur, dan ranting kecil dari sampah anorganik. Pemilahan ini penting agar proses penguraian berjalan optimal dan tidak tercampur bahan yang sulit terurai.
Langkah kedua adalah mencacah bahan organik menjadi bagian yang lebih kecil. Semakin kecil ukuran bahan, semakin cepat proses dekomposisi berlangsung karena permukaan yang terurai lebih luas.
Langkah ketiga, susun bahan organik dalam wadah atau lubang kompos secara berlapis. Biasanya dimulai dengan lapisan daun kering, lalu disiram sedikit air untuk menjaga kelembapan. Kelembapan ideal dalam proses kompos sekitar 40–60 persen agar mikroorganisme dapat bekerja secara maksimal.
Langkah keempat adalah menambahkan aktivator kompos jika tersedia, seperti EM4 atau larutan gula merah, untuk mempercepat proses penguraian. Namun tanpa aktivator pun, kompos tetap bisa terbentuk secara alami.
Langkah kelima, aduk kompos setiap beberapa hari sekali agar sirkulasi udara tetap terjaga. Proses pengomposan umumnya membutuhkan waktu antara 4 hingga 8 minggu tergantung bahan dan kondisi cuaca.
Selain membuat kompos, siswa juga melakukan penanaman pohon dan tanaman obat keluarga (TOGA). Penanaman pohon memiliki manfaat besar, di antaranya menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Fakta ilmiah menyebutkan bahwa satu pohon dewasa mampu menyerap hingga 22 kilogram karbon dioksida per tahun.
Kegiatan penghijauan ini juga membantu mengurangi suhu lingkungan sekitar. Area yang memiliki banyak vegetasi cenderung lebih sejuk karena proses evapotranspirasi tanaman yang membantu menurunkan suhu udara.
Di sudut lain madrasah, terlihat para guru dan pegawai bergotong royong membersihkan kayu gelam untuk dijadikan tiang pagar kebun. Kayu gelam dikenal sebagai kayu yang tahan terhadap air dan rayap, sehingga cocok digunakan sebagai pagar alami.
Proses pembersihan kayu dilakukan dengan mengupas kulit luar dan merapikannya agar siap dipasang. Pembuatan pagar kebun ini bertujuan untuk melindungi tanaman dari gangguan sekaligus memperindah tata ruang hijau madrasah.
Kepala MIN 2 Kota Palembang, Ibu Siti Ajnaimah menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar kerja bakti, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kepada siswa bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Program ekoteologi dan Adiwiyata bukan hanya teori, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa kesadaran lingkungan harus dimulai dari lingkungan terdekat. “Jika anak-anak terbiasa menjaga kebersihan dan merawat tanaman di madrasah, insyaAllah kebiasaan itu akan terbawa hingga ke rumah dan masyarakat,” tambahnya.
Salah satu guru, Bapak Ridwan, turut memberikan apresiasi terhadap antusiasme siswa. Ia mengatakan, “Kegiatan ini menumbuhkan semangat kebersamaan sekaligus menjadi sarana edukasi menjaga lingkungan. Anak-anak belajar bekerja sama, belajar bertanggung jawab, dan memahami bahwa lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab bersama.”
Secara edukatif, kegiatan gotong royong seperti ini melatih keterampilan sosial siswa. Mereka belajar berkolaborasi, berbagi tugas, dan saling membantu. Nilai-nilai ini sangat penting dalam membentuk karakter generasi yang peduli dan berempati.
Selain itu, pembelajaran berbasis praktik seperti ini terbukti lebih efektif dalam menanamkan kesadaran lingkungan dibandingkan hanya melalui teori di kelas. Siswa yang terlibat langsung dalam proses menanam dan membuat kompos akan lebih memahami siklus alam.
Program Adiwiyata sendiri menekankan empat komponen utama, yaitu kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana prasarana ramah lingkungan. Kegiatan hari ini mencerminkan penerapan keempat komponen tersebut.
Dalam perspektif ekoteologi, menjaga lingkungan merupakan amanah dari Allah SWT. Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab untuk tidak merusak alam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa kerusakan di bumi terjadi akibat ulah tangan manusia.
Dengan adanya kegiatan ini, siswa MIN 2 Kota Palembang tidak hanya belajar tentang lingkungan, tetapi juga memahami keterkaitan antara iman dan tanggung jawab ekologis. Pendidikan seperti ini menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan global.
Kegiatan gotong royong yang dilaksanakan bersama-sama ini mencerminkan nilai budaya Indonesia yang luhur. Semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan madrasah yang bersih, asri, dan nyaman.
Di akhir kegiatan, lingkungan madrasah tampak lebih rapi dan hijau. Senyum puas terlihat di wajah para siswa dan guru yang telah berkontribusi dalam aksi nyata tersebut.
Melalui kegiatan ini, MIN 2 Kota Palembang kembali menegaskan perannya sebagai madrasah yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter peduli lingkungan.
Gerakan sederhana seperti membersihkan, menanam, dan membuat kompos hari ini menjadi investasi besar bagi masa depan bumi. Karena dari langkah kecil di lingkungan madrasah, lahir generasi yang sadar akan pentingnya menjaga ciptaan Tuhan demi keberlanjutan kehidupan. (an)
