Palembang Kemenag Sumsel
Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 H, suasana religius dan penuh kekhidmatan terasa di Masjid Azhariyah Kantor Kemenag Kota Palembang. Pada Rabu pagi, jajaran Kementerian Agama Kota Palembang menggelar Launching Program Kemenag Mengaji sekaligus kegiatan Ruwahan sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut bulan penuh berkah. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan dan pegawai di lingkungan Kemenag Kota Palembang, termasuk Kepala MIN 2 Kota Palembang. 18/02/2026.
MIN 2 Kota Palembang diwakili langsung oleh Kepala Madrasah, Ibu Siti Ajnaimah, beserta staf. Kehadiran tersebut merupakan tindak lanjut dari Undangan Nomor: 53/KK.06.05.03/BA.01.2/02/2026 tertanggal Palembang, 17 Februari 2026, dengan perihal Undangan Kemenag Mengaji dan Ruwahan. Undangan tersebut ditujukan kepada seluruh jajaran pejabat dan ASN di lingkungan Kemenag Kota Palembang, kepala madrasah negeri se-Kota Palembang, kepala KUA kecamatan, hingga pengawas.
Acara ini menjadi momentum penting dalam membangun budaya literasi Al-Qur’an di lingkungan Kementerian Agama. Program Kemenag Mengaji secara resmi diluncurkan sebagai gerakan kolektif untuk meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an di kalangan ASN dan satuan kerja di bawah naungan Kemenag.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag Kota Palembang, H. Muflikhul Hasan, menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya momentum ibadah ritual, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat interaksi umat Islam dengan Al-Qur’an. Oleh karena itu, program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Program Kemenag Mengaji memiliki dua fokus utama. Pertama adalah Tahsin Al-Qur’an Eksklusif Kemenag (TAQWEKEN), yaitu program peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an bagi ASN dengan pendekatan tajwid dan makharijul huruf yang benar. Secara ilmiah, tahsin berperan penting dalam menjaga keaslian bacaan Al-Qur’an sebagaimana diturunkan, sekaligus melatih ketelitian fonetik dalam pelafalan huruf-huruf hijaiyah.
Kedua adalah Gerakan Membaca Al-Qur’an One Day One Khatam (GEMA ODOH). Program ini mengusung semangat kolektif, di mana pembacaan Al-Qur’an dilakukan secara bersama-sama sehingga dalam satu hari dapat mengkhatamkan Al-Qur’an. Gerakan ini mengutip hadis riwayat Muhammad dalam Sahih Bukhari No. 5027: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Secara keilmuan, interaksi rutin dengan Al-Qur’an terbukti memberikan dampak positif terhadap ketenangan jiwa. Berbagai penelitian dalam psikologi Islam menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan konsentrasi, serta memperkuat kecerdasan spiritual. Hal ini sangat relevan dalam menyambut Ramadhan sebagai bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Kegiatan Ruwahan yang dilaksanakan bersamaan dengan launching program ini juga memiliki nilai historis dan kultural. Tradisi ruwahan di Nusantara dikenal sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadhan, dengan memperbanyak doa, istighfar, dan mempererat silaturahmi. Tradisi ini menjadi jembatan antara budaya lokal dan nilai-nilai syariat Islam.
Dalam konteks pendidikan madrasah, Ramadhan merupakan laboratorium karakter. Puasa melatih disiplin, kejujuran, empati, dan pengendalian diri. Secara fisiologis, puasa yang dilakukan dengan benar juga memberikan manfaat kesehatan, seperti detoksifikasi alami dan peningkatan sensitivitas insulin.
Ibu Siti Ajnaimah menyampaikan bahwa kehadiran MIN 2 Kota Palembang dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen madrasah dalam mendukung program keagamaan Kementerian Agama. “Hari ini MIN 2 Kota Palembang yang saya wakili bersama staf menghadiri launching Program Kemenag Mengaji dan Ruwahan sebagai bentuk dukungan penuh terhadap gerakan membumikan Al-Qur’an di lingkungan Kementerian Agama Kota Palembang. Ini menjadi penguat semangat kami untuk menanamkan budaya cinta Al-Qur’an kepada peserta didik,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa Ramadhan harus dipersiapkan dengan ilmu, bukan hanya semangat. Ilmu tentang fiqih puasa, seperti syarat wajib, rukun, sunnah, dan hal-hal yang membatalkan puasa, perlu dipahami dengan benar agar ibadah sah dan bernilai maksimal.
Secara fiqih, puasa Ramadhan diwajibkan bagi setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan (la’allakum tattaqun), yaitu kesadaran spiritual yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Ramadhan juga dikenal sebagai Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Oleh sebab itu, memperbanyak tilawah, tadabbur, dan kajian tafsir menjadi amalan utama. Secara historis, para ulama terdahulu bahkan mengurangi aktivitas lainnya demi fokus berinteraksi dengan Al-Qur’an selama Ramadhan.
Dalam dunia pendidikan, momentum Ramadhan dapat dimanfaatkan untuk membangun program pesantren kilat, tadarus bersama, serta gerakan sedekah siswa. Nilai-nilai sosial seperti kepedulian terhadap fakir miskin dan semangat berbagi menjadi bagian integral dari pembelajaran karakter.
Program TAQWEKEN dan GEMA ODOH diharapkan tidak hanya berjalan di lingkungan kantor Kemenag, tetapi juga menginspirasi madrasah-madrasah untuk menerapkan gerakan serupa. Budaya one day one juz atau one day one khatam secara kolektif dapat membentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.30 WIB tersebut berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam masjid, menghadirkan suasana haru dan semangat kebersamaan menjelang Ramadhan.
Sinergi antarunit kerja yang terlihat dalam kegiatan ini mencerminkan semangat kolaboratif Kementerian Agama dalam membangun ekosistem religius yang kuat. Kepala madrasah, kepala KUA, pengawas, hingga ASN hadir dalam satu barisan spiritual yang sama.
Bagi MIN 2 Kota Palembang, kegiatan ini menjadi motivasi untuk memperkuat program pembinaan keagamaan di madrasah. Ramadhan bukan hanya agenda tahunan, tetapi momentum transformasi diri bagi guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik.
Dengan diluncurkannya Program Kemenag Mengaji, diharapkan budaya literasi Al-Qur’an semakin mengakar di lingkungan pendidikan Islam. Semangat hadis tentang keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an menjadi landasan moral bagi seluruh insan madrasah.
Akhirnya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menyambut Ramadhan tidak cukup dengan persiapan fisik semata, tetapi memerlukan kesiapan hati, ilmu, dan komitmen. MIN 2 Kota Palembang berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari gerakan membumikan Al-Qur’an, mencetak generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing di masa depan. (an)
